Tembaga


Secara fisik, tembaga memilki sistem kristal kubik dan berwarna kuning. Jika dilihat menggunakan mikroskop, bijih akan terlihat berwarna merah muda kecokelatan sampai keabu-abuan. Pada umumnya, tembaga terbentuk dari batuan beku atau sedimen yang mengandung mineral tembaga. Mineral tembaga yang umum dijumpai antara lain adalah kalkopirit, bornit dan kubah. Di Indonesia, bijih tembaga terbentuk secara magmatik dengan proses yang dikenal sebagai hidrotermal atau metasomatisme.

Adapun terkait proses terbentuknya tembaga melibatkan beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pengendapan mineral yang mengandung tembaga pada dasar laut atau danau. Kemudian setelah jutaan tahun lamanya, endapan mineral tersebut terangkat ke permukaan bumi akibat pergerakan lempeng tektonik dan erosi. Tahap kedua adalah proses pengolahan yang dilakukan untuk mengolah endapan mineral tembaga agar dapat digunakan sebagai bahan baku. Proses tersebut dikenal dengan proses hidrometalurgi atau pirometalurgi. Kemudian tahap yang ketiga adalah proses lanjutan untuk menghasilkan berbagai produk yang menggunakan tembaga sebagai bahan baku. Secara umum, proses terbentuknya tembaga memerlukan waktu yang sangat lama dan melibatkan banyak tahapan yang kompleks. Namun, hasilnya adalah salah satu logam yang paling penting dan umum digunakan di seluruh dunia.

Tembaga
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Indonesia menempati posisi ke-7 sebagai negara penghasil tembaga terbesar di dunia. Pada 2020, diketahui bahwa cadangan sumber daya tembaga di Indonesia mencapai 28 miliar metrik ton. Angka ini setara dengan 3% cadangan tembaga dunia yang jumlahnya mencapai 871 miliar metrik ton.

'